Penulis: Muajmin Hudin*
Beberapa hari setelah malam hujan itu, hidup kembali berjalan seperti biasa.
Arga tetap bangun pagi dengan mata yang kadang masih berat karena kurang tidur. Tetap menghadapi tumpukan pekerjaan yang terasa tidak pernah benar-benar selesai. Tetap duduk terlalu lama di depan layar komputer hingga pundaknya pegal dan pikirannya penuh suara-suara kecil yang sulit dimatikan.
Namun ada sesuatu yang berubah diam-diam.
Hari-harinya tidak lagi terasa sepenuhnya kosong.
Kadang di tengah kesibukan, ponselnya berbunyi singkat.
“Udah makan?”
Atau hanya.
“Hari ini panas banget.”
Kalimat-kalimat sederhana yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi Arga, pesan-pesan itu seperti lampu kecil di jalan panjang yang selama ini ia lalui sendirian.
Mereka masih jarang bertemu.
Masih lebih sering berbicara lewat pesan singkat yang muncul di sela pekerjaan, malam, dan hujan.
Namun justru karena tidak dipaksa menjadi sesuatu, hubungan itu tumbuh perlahan dengan cara yang terasa alami.
Tidak melelahkan.
Tidak penuh permainan perasaan.
Tidak membuat salah satu harus terus menebak-nebak apakah dirinya cukup berarti atau tidak.
Dan mungkin itu yang membuat Arga takut sekaligus nyaman.
Karena setelah sekian lama hidup dalam hubungan yang penuh kebisingan, ketenangan justru terasa asing.
Sore itu langit kota berwarna abu pucat. Angin membawa aroma hujan yang belum turun. Arga baru keluar dari kantor ketika ponselnya bergetar.
“Aku lagi di toko buku.”
Ia membaca pesan itu sambil berjalan pelan menuju parkiran.
Lalu satu pesan lain masuk.
“Kamu masih suka bagian sastra di lantai dua?”
Arga berhenti melangkah.
Ada kenangan yang tiba-tiba terbuka begitu saja.
Bertahun-tahun lalu, saat masih kuliah, ia memang sering menghabiskan waktu di toko buku tua dekat kampus. Bukan untuk membeli apa pun. Ia hanya suka duduk diam di pojok rak sastra sambil membaca buku yang tidak mampu ia beli.
Saat itu hidup terasa sempit.
Uang pas-pasan.
Pikiran berantakan.
Masa depan seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk dibayangkan.
Dan ternyata… perempuan itu mengingat hal kecil semacam itu.
Arga tersenyum samar.
“Masih.”
Balasan datang beberapa detik kemudian.
“Aku lagi di sana.”
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena terkejut.
Melainkan karena tiba-tiba dunia terasa mengecil. Seolah jarak yang selama ini mereka biarkan perlahan mulai mendekat dengan sendirinya.
“Hujan mau turun,” ketiknya.
“Iya.”
“Kamu sendiri?”
“Iya.”
Arga menatap layar cukup lama.
Lalu tanpa terlalu banyak berpikir, ia mengetik
“Tunggu sebentar.”
Hujan benar-benar turun ketika Arga sampai di depan toko buku itu.
Lampu-lampu kota memantul di genangan air. Orang-orang berlarian kecil menghindari hujan sambil menutupi kepala dengan tas atau jaket tipis.
Arga berdiri beberapa detik di depan pintu kaca.
Entah kenapa ia tiba-tiba gugup.
Perasaan itu terasa lucu di usianya sekarang.
Dulu ia bisa mendekati siapa saja tanpa banyak pikir panjang. Bisa berbicara berjam-jam hanya demi mengusir sepi. Bisa membuat dirinya terlihat begitu percaya diri.
Namun malam ini berbeda.
Karena kali ini ia tidak sedang mencoba membuat seseorang terkesan.
Ia hanya ingin bertemu.
Dan justru karena itu, semuanya terasa lebih nyata.
Ia masuk perlahan.
Aroma kertas dan pendingin ruangan menyambutnya. Musik instrumental mengalun pelan dari speaker kecil di sudut ruangan.
Beberapa orang berdiri di antara rak-rak buku dengan dunia mereka masing-masing.
Lalu Arga melihatnya.
Perempuan itu berdiri di lantai dua, di dekat rak sastra Indonesia. Mengenakan sweater abu-abu longgar dengan rambut yang sedikit jatuh ke bahu.
Tangannya sedang memegang sebuah buku.
Dan untuk sesaat, dunia terasa diam.
Bukan karena perempuan itu tampak seperti tokoh film.
Bukan karena ada sesuatu yang berlebihan dari dirinya.
Justru sebaliknya.
Ia terlihat begitu biasa.
Begitu nyata.
Dan anehnya, justru itu yang membuat dada Arga terasa hangat.
Perempuan itu menoleh pelan.
Tatapan mereka bertemu.
Lalu senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang sederhana, namun cukup untuk membuat seluruh kegaduhan dalam kepala Arga mendadak mereda.
“Tumben datang,” katanya pelan.
Arga mendekat sambil mengusap sisa air hujan di lengannya.
“Kamu nyuruh nunggu.”
Perempuan itu tertawa kecil.
Suara tawanya lembut. Tidak dibuat-buat. Tidak keras.
Dan Arga tiba-tiba sadar bahwa ada suara-suara tertentu di dunia yang bisa membuat seseorang merasa pulang tanpa alasan yang jelas.
Mereka berjalan pelan di antara rak-rak buku.
Membicarakan hal-hal kecil.
Tentang novel lama yang sampulnya sudah berganti.
Tentang kopi toko buku yang rasanya masih sama buruknya.
Tentang hujan yang selalu membuat kota terasa lebih melankolis.
Tidak ada percakapan besar tentang cinta.
Tidak ada pengakuan perasaan.
Namun di sela langkah-langkah kecil itu, ada sesuatu yang tumbuh pelan di antara mereka.
Sesuatu yang tidak terburu-buru meminta nama.
Tetapi perlahan membuat keduanya mengerti.
bahwa mungkin, setelah begitu lama hidup saling berjauhan di dunia yang sama,
akhirnya mereka tiba di waktu yang tepat untuk benar-benar saling menemukan

Tinggalkan Balasan